BANDUNG, KOMPAS.com -- Kebutuhan akan materi kependudukan dan keluarga
berencana dalam pendidikan mendesak. Ini mengingat jumlah penduduk
Indonesia yang mencapai 237,64 juta jiwa dan tingkat kelahiran 2,6
dengan pertumbuhan 1,49 persen per tahun.
Pendidikan kependudukan
belum memasyarakat dan tidak mendapat perhatian pemerintah. Akibatnya,
sampai sekarang bentuk pelaksanaan pendidikan kependudukan belum jelas.
Hal
ini mengemuka dalam pertemuan koordinasi lintas sektor pelaksanaan
program pendidikan kependudukan antara Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana (BKKBN) dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta
Kementerian Agama, Rabu hingga Kamis (10/11/2011) di Bandung, Jawa
Barat.
Implementasi pendidikan kependudukan dan KB diusulkan
masuk kurikulum pendidikan dan kegiatan ekstrakurikuler mulai tahun
ajaran baru mendatang. Harapannya, akan bisa mengubah pola pikir
generasi muda. Meski masuk kurikulum, pendidikan kependudukan tidak
menjadi mata pelajaran tersendiri.
Kepala Bidang Fasilitasi
Sumberdaya Kemendikbud Dadang Sudarman mengatakan, implementasinya bisa
berupa sinergitas program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Posyandu,
atau Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah. "Di sekolah, bisa
diintegrasikan dalam mata pelajaran, masuk sebagai muatan lokal, atau
sebagai kegiatan pengembangan diri," kata Dadang.
Direktur
Pendidikan Tinggi Islam, Kemenag Dede Rosada menambahkan, pendidikan
kependudukan bisa diterapkan juga di jenjang pendidikan tinggi sebagai
mata kuliah umum dasar. "Ini bisa menjadi entry point masuknya
pendidikan kependudukan di perndidikan tinggi. Atau bisa juga diselipkan
melalui program di forum kerukunan umat beragama," kata Dede.
Sebelumnya,
Rabu malam, BKKBN meluncurkan Gerakan Perilaku Hidup Berwawasan
Kependudukan (PHBK) bekerja sama dengan Kemendikbud dan Kemenag.
Keikutsertaan masyarakat untuk menjaga keseimbangan perkembangan
penduduk dengan daya dukung lingkungan menjadi inti gerakan PHBK.
"Kepedulian pada isu kependudukan ini harus menjadi gerakan kesadaran
masyarakat," kata Kepala BKKBN Sugiri Syarief.
Isu kependudukan
bukan hanya milik BKKBN tetapi seluruh masyarakat. Direktur Kependudukan
BKKBN Lalu Burhan menekankan pentingnya semua pihak untuk berbagi tugas
terutama dalam hal pendampingan pendidikan kependudukan. Upaya
pendampingan dilakukan segera setelah pendidik mendapat pelatihan
pendidikan kependudukan.
"Semua harus sharing baik tenaga maupun
biaya karena BKKBN tidak bisa bekerja sendiri. Langkah awalnya guru dan
dosen harus dilatih agar bisa dimengerti dan dipraktikkan siswa," kata
Burhan.
Rabu, 16 November 2011
Pil KB Pria akan Hadir di Indonesia
Sabtu,
05/11/2011 - 05:48 JAKARTA, (PRLM).- Alat kontrasepsi berupa pil
keluarga berencana (KB) khusus untuk pria, sebentar lagi akan hadir di
Indonesia. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
bersama pihak terkait lainnya, saat ini tengah melakukan penelitian pil
kontrasepsi hasil temuan dosen farmasi Universitas Airlangga tersebut.
“Hasil temuan pil kontrasepsi itu, belum lama ini juga telah
dipresentasikan pada Konferensi Alat Kontrasepsi Baru di Seattle AS, 29
Oktober lalu. Kepala BKKBN telah mempersentasikan pil KB untuk pria ini
sebagai inovasi Indonesia dalam menemukan obat kontrasepsi untuk pria,”
kata Sekretaris Utama BKKBN Sudibyo Alimoeso belum lama ini.
Saat ini menurutnya, pil tersebut telah masuk dalam penelitian fase
III. Bahkan kata dia, sudah ada produsen yang berminat untuk
memproduksinya. Dengan hadirnya Pil KB buat pria ini kata dia,
diharapkan mampu merontokkan egoisme pria jika bicara tentang alat
kontrasepsi. Namun kini masih tetap dalam tahap uji klinis.
Sebelumnya, Kepala BKKBN Sugiri Syarief menjelaskan, pil yang
berbahan dasar ekstrak tanaman Gandarusa itu, tengah dalam tahap uji
klinis. Serta siap diproduksi massal dan diedarkan kepada masyarakat
pada akhir 2011. Alat kontrasepsi temuan dosen farmasi Universitas
Airlangga, Bambang Prajogo itu pun telah diujicobakan kepada 300 pria
sebagai sampel.
Gandarusa atau biasa disebut daun rusa dengan nama latin, Justicia
gendarussa Burm merupakan semak tropis yang biasa dijumpai di pekarangan
rumah, baik sendiri atau sebagai pagar hidup. Tumbuhan ini mudah tumbuh
dan dapat diperbanyak dengan stek.
Khasiat pengobatan Gandarusa memiliki efek analgetik, diuretik, dan
antispermatozoa. Daunnya mengandung alkaloid yang berpotensi racun bagi
manusia. Tumbuhan ini konon digunakan sebagai alat kontrasepsi pria
oleh beberapa penduduk lokal Pulau Papua.
Hasil penelitian di Unair menunjukkan ekstrak daun gandarusa mampu
melemahkan sel sperma pria secara periodik. Artinya, pil tersebut aman
karena tidak memandulkan pria secara permanen. (A-26/kominfo).***
Sumber:
Sumber:
Pikiran Rakyat
Tingkatkan Akseptor KB, BKKBN Tak Sendirian
Oke Zone-KEPALA Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) Sugiri Syarief mengatakan, jumlah akseptor program Keluarga
Berencana (KB) semakin meningkat bahkan sudah mencapai 100 persen dari
target yang ditetapkan.
"Melihat hasil laporan rutin dari BKKBN, keluarga yang menjadi peserta program KB (akseptor KB-red) meningkat. Dari awal tahun ini hingga September sudah mencapai 92 persen. Pada Agustus lalu, jumlahnya sempat menurun karena saat itu adalah bulan puasa," jelasnya Sugiri di Ruang Pers BKKBN, Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Senin (14/11/2011).
Sugiri menegaskan akan meningkatkan jumlah akseptor pada 2012 mendatang. Peningkatan akseptor juga tidak dilakukan BKKBN sendirian, melainkan melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Selama tiga tahun menjalin kerja sama dengan TNI, program BKKBN diakuinya mengalami kemajuan. Para anggota TNI yang berada di seluruh pelosok Indonesia berperan penting dalam memberikan penyuluhan tentang program KB ke masyarakat. Pendampingan TNI juga diharapkan semakin menyukseskan program KB yang dijalankan oleh BKKBN.
Pada 17 November mendatang, BKKBN bahkan berencana meluncurkan program penggarapan daerah terpencil di Ambon bersama TNI. Akan dibangun pula beberapa rumah sakit apung di wilayah tersebut.
Program kerja yang segera diselenggarakan juga akan melibatkan personel TNI yang tergabung dalam Armada Timur (Armatim) dan Armada Barat (Armabar). (ftr)
"Melihat hasil laporan rutin dari BKKBN, keluarga yang menjadi peserta program KB (akseptor KB-red) meningkat. Dari awal tahun ini hingga September sudah mencapai 92 persen. Pada Agustus lalu, jumlahnya sempat menurun karena saat itu adalah bulan puasa," jelasnya Sugiri di Ruang Pers BKKBN, Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Senin (14/11/2011).
Sugiri menegaskan akan meningkatkan jumlah akseptor pada 2012 mendatang. Peningkatan akseptor juga tidak dilakukan BKKBN sendirian, melainkan melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Selama tiga tahun menjalin kerja sama dengan TNI, program BKKBN diakuinya mengalami kemajuan. Para anggota TNI yang berada di seluruh pelosok Indonesia berperan penting dalam memberikan penyuluhan tentang program KB ke masyarakat. Pendampingan TNI juga diharapkan semakin menyukseskan program KB yang dijalankan oleh BKKBN.
Pada 17 November mendatang, BKKBN bahkan berencana meluncurkan program penggarapan daerah terpencil di Ambon bersama TNI. Akan dibangun pula beberapa rumah sakit apung di wilayah tersebut.
Program kerja yang segera diselenggarakan juga akan melibatkan personel TNI yang tergabung dalam Armada Timur (Armatim) dan Armada Barat (Armabar). (ftr)
Nikah Usia Muda Penyebab Kanker Serviks
Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) Pusat, menyarankan kaum muda untuk menghindari pernikahan usia
dini guna menghindari kemungkinan terjadinya resiko kanker leher rahim (Kanker
Serviks) pada pasangan istri.
Pernyatan itu disampaikan Kepala BKKBN dr Sugiri Syarief, MPA dalam kegiatan program KB Nasional yang berlangsung di Hotel Horizon, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis."Menikah terlalu muda bisa menjadi pemicu timbulnya kanker leher rahim, yang menjadi urutan pertama penyebab kematian diantara jenis-jenis kanker yang ada," katanya.
Menurut Syarief, Program Keluarga Berencana (KB) dan pencegahan kanker leher rahim berjalan seirama. Program KB memiliki tujuan untuk membatasi jumlah anak sekaligus memberikan pengetahuan bagaimana menjaga kesehatan reproduksi."Masyarakat disarankan memberi jarak kehamilan untuk memiliki anak. Selain itu juga penting untuk kaum ibu melakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui bagaimana kondisi reproduksinya," katanya.
Berdasarkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI), kata dia, Penyebab kanker leher rahim 90 persen karena virus yang disebabkan oleh berbagai macam penyebab diantaranya, menikah muda, melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti, dan perempuan perokok.
BKKBN, kata Sugiri Syarief, saat ini tengah menggalakkan program KB pada pasangan usia subur, utamanya yang baru menikah agar mengetahui apa fungsi keluarga. Sehingga, program KB tidak hanya bersifat konsultasi mengenai alat kontrasepsi, dan kegiatan reproduksi tetapi lebih bersifat penanaman budaya untuk generasi muda tentang betapa pentingnya keluarga dan manfaat KB.
"Kami telah melakukan kerjasama dengan Departemen Agama untuk menyiapkan buku panduan pranikah. Semua materi substansi yang berkaitan dengan pembangunan keluarga akan dimasukan di buku panduan tersebut. Isi buku panduan diajarkan kepada calon pasangan pengantin sewaktu belum nikah," ujar Sugiri Syarief.
Ditambahkan Sugiri Syarif, selama tahun 2009, pihaknya telah menjalankan sejumlah program kesehatan reproduksi remaja diantaranya, pembentukan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR)."Program PIK-KRR merupakan upaya untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap, dan prilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, serta meningkatkan drajat reproduksinya. Ke depan kami berharap seluruh Kecamatan di Indonesia akan memiliki program tersebut," katanya.ant/kpo
Pernyatan itu disampaikan Kepala BKKBN dr Sugiri Syarief, MPA dalam kegiatan program KB Nasional yang berlangsung di Hotel Horizon, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis."Menikah terlalu muda bisa menjadi pemicu timbulnya kanker leher rahim, yang menjadi urutan pertama penyebab kematian diantara jenis-jenis kanker yang ada," katanya.
Menurut Syarief, Program Keluarga Berencana (KB) dan pencegahan kanker leher rahim berjalan seirama. Program KB memiliki tujuan untuk membatasi jumlah anak sekaligus memberikan pengetahuan bagaimana menjaga kesehatan reproduksi."Masyarakat disarankan memberi jarak kehamilan untuk memiliki anak. Selain itu juga penting untuk kaum ibu melakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui bagaimana kondisi reproduksinya," katanya.
Berdasarkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI), kata dia, Penyebab kanker leher rahim 90 persen karena virus yang disebabkan oleh berbagai macam penyebab diantaranya, menikah muda, melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti, dan perempuan perokok.
BKKBN, kata Sugiri Syarief, saat ini tengah menggalakkan program KB pada pasangan usia subur, utamanya yang baru menikah agar mengetahui apa fungsi keluarga. Sehingga, program KB tidak hanya bersifat konsultasi mengenai alat kontrasepsi, dan kegiatan reproduksi tetapi lebih bersifat penanaman budaya untuk generasi muda tentang betapa pentingnya keluarga dan manfaat KB.
"Kami telah melakukan kerjasama dengan Departemen Agama untuk menyiapkan buku panduan pranikah. Semua materi substansi yang berkaitan dengan pembangunan keluarga akan dimasukan di buku panduan tersebut. Isi buku panduan diajarkan kepada calon pasangan pengantin sewaktu belum nikah," ujar Sugiri Syarief.
Ditambahkan Sugiri Syarif, selama tahun 2009, pihaknya telah menjalankan sejumlah program kesehatan reproduksi remaja diantaranya, pembentukan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR)."Program PIK-KRR merupakan upaya untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap, dan prilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, serta meningkatkan drajat reproduksinya. Ke depan kami berharap seluruh Kecamatan di Indonesia akan memiliki program tersebut," katanya.ant/kpo
Komentar
Program KB memang sarat dengan
kepentingan duniawi sehingga kepentingan ukhrawi (baca perintah Tuhan) bila
perlu diabaikan atau dilanggar. Contohnya: Islam menyuruh umatnya untuk punya
anak sebanyak-banyaknya, sedangkan BKKBN menganjurkan 2 orang anak saja. Nabi
menikahi Aisyah ketika dia baru berumur 9 tahun. Kalau itu terjadi sekarang di Indonesia
pasti Nabi ditahan seperti Mbah Puji karena melanggar UU Perlindungan Anak.
Saya sendiri dan isteri saya menikah ketika masih sama-sama umur 21 tahun, dan
dikaruniai 7 orang anak dan semuanya tamatan perguruan tinggi. Walau umur saya
sekarang sudah hampir masuk kepala 7, saya masih berani naik motor. Artinya
sehat-sehat saja. Isteri saya pun hingga sekarang tidak pernah menderita
penyakit seperti dinyatakan kepala BKKBN itu, masih dapat mengerjakan sendiri
semua pekerjaan rumah tanpa bantuan PRT. Pergi jauh sendirian pun berani.
Artinya sehat-sahat saja. Berhati-hatilah dalam mengemukakan pendapat. Sesuatu
yang bersifat kasuistik jangan dijadikan alasan (apalagi satu-satunya alasan)
untuk menjeneralisasi bahwa perkawinan pada usia muda selalu menimbulkan
penyakit kanker leher rahim. Pak dokter yang kepala BKKBN saya sarankan untuk
membaca disertasi Dr. Ahmad Ramali, tentang Peraturan Syari'ah mengenai
Kesehatan, doktor pertama alumni FK UGM, dan buku Birth Control, karya Abul
A'la Maududi, edisi Inggris (1980), agar anda tidak terjerumus dalam
"konfrontasi" dengan Tuhan.
Ibnu SInah
Ibnu SInah
CINTAILAH PEKERJAAN ANDA
CINTAILAH PEKERJAAN ANDA
H . L NERRY
BILA TIDAK MENYUKAI PEKERJAAN ANDA
ANDA MEMERLUKAN ENERGI TIGA KALI LIPAT
UNTUK MEMAKSA DIRI ANDA BEKERJA
UNTUK MENAHAN PAKSAAN TERSEBUT DAN AKHIRNYA
UNTUK BEKERJA
BILA
ANADA MENCINTAI PEKERJAAN ANDA
KEINGINAN
ANDA UNTUK MELAKUKANNYA
ADALAH
BAGAIKAN ANGIN BERHEMBUS
UNTUK
MENGGERAKAN PERAHU ANDA
DENGAN
LEBIH SEDIKIT BAHAN BAKAR
BILA ANDA MENYUKAI PEKERJAAN ANDA
ANDA TIDAK LAGI BEKERJA, KARENA BEKERJA
PADA SAAT ANDA MENYUKAINYA
ADALAH BUKAN LAGI BEKERJA
NAMUN ADALAH KENIKMATAN SEMATA
BILA ANDA MENIKMATI
PEKERJAAN ANDA
ANDA AKAN
BEKERJA DAN BEKERJA TANPA MENGHITUNG JAMNYA DAN AKAN MENUAI SERTA MENIKMATI
PENGHASILAN PULA.
MOTIVASI DALAM BEKERJA
§
Frederick Herzberg (1966) telah melakukan penelitian yg melibatkan
lebih dari 200 org insinyur dan akuntan sebagai respondennya, utk mengetahui
faktor2 apa yg menyebabkan mereka sangat senang dan tidak senang (frustasi) dlm
hubungannya dgn pekerjaan mereka.
§
Teorinya dikenal yait, Teori Motivasi Dua Faktor
Herzberg berkesimpulan bahwa:
1. Para pegawai menginginkan dan
mengharapkan gaji yg memadai, jaminan pekerjaan dan kehidupan pribadi, kondisi
kerja yg baik, status, dan kebijakan-kebijakan perusahaan dan perilaku
administrasi yg bertanggung jawab.
2. Apabila kebutuhan dasar ini
tdk terpenuhi, maka para pegawai akan mencari peluang pekerjaan ke tempat lain,
kemangkiran (absen) meningkat, hubungan kerja memburuk, munculnya sikap-sikap
yg menderita, dan seterusnya.
3. Menurut Herzberg, saat
kebutuhan dasar itu tdk terpenuhi, para pegawai akan merasa tdk puas dan tdk
dpt dimotivasi karena perhatian mereka tertuju pada pemenuhan kebutuhan dasar.
Pemenuhan kebutuhan ini dpt meningkatkan kepuasan tetapi tdk meningkatkan
produksi secara langsung.
4. Kebutuhan motivasi dlm
urutan yg lebih tinggi meliputi peluang-peluang pertumbuhan pribadi,
pencapaian, penghargaan, kemajuan, tanggung jawab, dan kenyamanan kerja itu
sendiri.
5. Menurut Herzberg, utk memotivasi
seorang pegawai, sebagai langkah awal, seorang manajer pertama-tama harus
memenuhi atau sekurang-kurangnya memelihara kebutuhan dasar. Setelah hal ini
terpenuhi, kebutuhan motivasi menjadi prioritas.
6. Menurut Herzberg, para
pegawai di seluruh dunia termotivasi oleh kebutuhan sifat dasar mereka sendiri
utk berhasil dalam tugas-tugas yg menantang, bukan termotivasi oleh keuntungan
yg lebih besar, simbol status baru, atau upah yg lebih tinggi. Jadi,
penganekaragaman pekerjaan jelas perlu jika seseorang manajer akan memotivasi
para pegawai.
Rekomendasi
Herzberg,
utk memberikan dorongan (motivasi) kerja, yaitu:
v
Setiap manajer hendaklah mengurangi pengendalian administrasi utk
memelihara keadaan yg dpt meningkatkan kerja mereka.
v
Pemberian lebih byk kebebasan kerja, wewenang, dan tanggung jawab
kepada pekerja.
v
Adanya pemberian tugas-tugas pekerjaan baru dan menantang para pegawai
utk meningkatkan peluang agar mereka belajar dan berkembang;
v
Para manajer harus membantu para
pegawai agar menjadi seseorang yg ahli dalam suatu pekerjaan tertentu sehingga
akan meningkatkan rasa penghargaan, tanggung jawab dan perkembangan mereka.
Rabu, 26 Oktober 2011
Anak Laki-laki Juga Harus Divaksin HPV
Kompas.com - Vaksin HPV untuk mencegah human
papillomavirus (HPV), penyebab utama kanker serviks pada wanita,
disarankan juga diberikan kepada anak laki-laki. Keputusan itu secara
bulat diambil oleh dewan komite untuk imunisasi Amerika Serikat (The
Advisory Committee on Immunization Practices).
Keputusan tersebut dinilai publik berlebihan karena vaksin HPV sendiri belum populer dikalangan para remaja putri, apalagi jika direkomendasikan untuk anak laki-laki.
Di AS tercatat baru 49 persen remaja putri yang mendapat satu dari tiga kali suntikan HPV yang disarankan. Hanya sepertiga remaja yang mendapatkan vaksin secara lengkap.
Dewan komite mengatakan, sedikitnya remaja putri yang divaksin HPV semakin meningkatkan perlunya dicari cara baru untuk mencegah kanker ini. Para pakar menyatakan kunci yang utama adalah melakukan vaksinasi secara rutin pada anak laki-laki untuk mencegah penyebaran virus HPV melalui hubungan seksual.
Dalam pelaksanaannya, vaksin HPV yang baru diperkenalkan sejak tahun 2006 ini banyak mendapat hambatan. Sebagian orangtua tidak yakin akan keamanan vaksin ini, terutama pada produk baru. Banyak pula orangtua yang tak ingin berpikir anak perempuan mereka akan melakukan hubungan seks, atau mereka juga tak mau vaksin ini menjadi alasan bagi remaja untuk bebas melakukan seks.
Diperkirakan 75-80 persen pria dan wanita terinfeksi HPV selama hidupnya, tetapi kebanyakan tidak berkembang menjadi gejala penyakit atau menyebabkan penyakit. Beberapa jenis infeksi memicu kutil kelamin, kanker serviks dan jenis kanker lain, termasuk kanker kepala dan leher.
Vaksin HPV disetujui para pakar untuk diberikan pada anak laki-laki dan perempuan usia 9-26 tahun. Dewan komite juga merekomendasikan anak laki-laki usia 13-21 divaksinasi.
Keputusan yang diambil dewan komite itu juga dilandasi bukti ilmiah yang menyebutkan vaksin HPV mencegah kanker anal pada laki-laki dan diduga kuat juga mencegah kanker tenggorokan. Penelitian itu difokuskan pada pria homoseksual dan ditemukan efektif sampai 75 persen mencegah kanker anal.
Sementara itu sebagian dokter berpendapat mengampanyekan vaksin yang berkaitan dengan kaum homoseksual bukanlah strategi yang tepat. Beberapa orangtua bahkan dengan tegas mengatakan tidak ingin melakukan vaksin pada anaknya karena anaknya tidak mungkin menjadi homoseksual.
Kendati demikian dewan komite berkilah bahwa sebagian besar orangtua setuju untuk memberi vaksin pada anak laki-lakinya untuk melindungi remaja perempuan. Survei terhadap 600 dokter anak tahun lalu juga menyebutkan hampir 70 persen dokter keluarga akan merekomendasikan vaksin pada anak laki-laki jika diperlukan.
Keputusan tersebut dinilai publik berlebihan karena vaksin HPV sendiri belum populer dikalangan para remaja putri, apalagi jika direkomendasikan untuk anak laki-laki.
Di AS tercatat baru 49 persen remaja putri yang mendapat satu dari tiga kali suntikan HPV yang disarankan. Hanya sepertiga remaja yang mendapatkan vaksin secara lengkap.
Dewan komite mengatakan, sedikitnya remaja putri yang divaksin HPV semakin meningkatkan perlunya dicari cara baru untuk mencegah kanker ini. Para pakar menyatakan kunci yang utama adalah melakukan vaksinasi secara rutin pada anak laki-laki untuk mencegah penyebaran virus HPV melalui hubungan seksual.
Dalam pelaksanaannya, vaksin HPV yang baru diperkenalkan sejak tahun 2006 ini banyak mendapat hambatan. Sebagian orangtua tidak yakin akan keamanan vaksin ini, terutama pada produk baru. Banyak pula orangtua yang tak ingin berpikir anak perempuan mereka akan melakukan hubungan seks, atau mereka juga tak mau vaksin ini menjadi alasan bagi remaja untuk bebas melakukan seks.
Diperkirakan 75-80 persen pria dan wanita terinfeksi HPV selama hidupnya, tetapi kebanyakan tidak berkembang menjadi gejala penyakit atau menyebabkan penyakit. Beberapa jenis infeksi memicu kutil kelamin, kanker serviks dan jenis kanker lain, termasuk kanker kepala dan leher.
Vaksin HPV disetujui para pakar untuk diberikan pada anak laki-laki dan perempuan usia 9-26 tahun. Dewan komite juga merekomendasikan anak laki-laki usia 13-21 divaksinasi.
Keputusan yang diambil dewan komite itu juga dilandasi bukti ilmiah yang menyebutkan vaksin HPV mencegah kanker anal pada laki-laki dan diduga kuat juga mencegah kanker tenggorokan. Penelitian itu difokuskan pada pria homoseksual dan ditemukan efektif sampai 75 persen mencegah kanker anal.
Sementara itu sebagian dokter berpendapat mengampanyekan vaksin yang berkaitan dengan kaum homoseksual bukanlah strategi yang tepat. Beberapa orangtua bahkan dengan tegas mengatakan tidak ingin melakukan vaksin pada anaknya karena anaknya tidak mungkin menjadi homoseksual.
Kendati demikian dewan komite berkilah bahwa sebagian besar orangtua setuju untuk memberi vaksin pada anak laki-lakinya untuk melindungi remaja perempuan. Survei terhadap 600 dokter anak tahun lalu juga menyebutkan hampir 70 persen dokter keluarga akan merekomendasikan vaksin pada anak laki-laki jika diperlukan.
Langganan:
Postingan (Atom)