Orang mungkin menduga bahwa usia 20-an adalah usia puncak untuk segalanya:
penampilan, kesehatan, atau karier. Melewati usia 30, anggapannya penampilan
sudah mulai menua (karena hadirnya anak-anak), stamina menurun, sementara stres
bertambah lantaran kebutuhan hidup yang semakin meningkat.
Namun menurut penelitian yang diadakan oleh brand pakaian premium
CC, kaum perempuan justru mencapai puncak kebahagiaannya pada usia 35 tahun.
Pada usia tersebut lah mereka menemukan penampilan yang membuat mereka paling bahagia
dan percaya diri. Satu dari tiga perempuan mengaku, semakin bertambah usia,
mereka merasa makin nyaman dengan penampilan mereka. Tiga dari empat perempuan
menganggap gaya mereka makin membaik.
Para peneliti juga mendapati bahwa satu dari 20 perempuan bahkan belum
merasa prima sampai memasuki usia 56 tahun. Sebaliknya, 59 persen perempuan
mengaku merasa bersalah karena bergaya terlalu muda untuk usia mereka.
"Ada asumsi bahwa penampilan dan selera berbusana Anda mencapai puncaknya
di akhir usia belasan dan awal 20-an, namun penelitian ini menunjukkan bahwa
Anda bisa menunggu sampai Anda menemukan gaya dan citra yang sesuai untuk Anda.
Kepercayaan diri, pengetahuan, dan kebijakan itu penting bisa menyangkut
penampilan yang baik. Anda bisa bisa saja mengikuti tren terbaru dan
barang-barang fashion yang wajib dimiliki, namun jika Anda tidak memiliki
kepercayaan diri untuk memakainya, pasti sia-sia," papar juru bicara CC
mengenai hasil penelitiannya.
Pencapaian puncak di usia 35 tahun ini juga tidak melulu berkaitan dengan
penampilan. Dalam penelitian yang dilakukan situs belanja bahan makanan Asda,
pernah diungkapkan bahwa perempuan butuh 11 tahun untuk menguasai cara mengolah
hidangan yang sempurna untuk makan malam, yang biasanya terjadi usia 30-an. Dua
pertiga perempuan baru memasak makan malamnya yang pertama pada usia 23. Namun,
mereka baru merasa benar-benar menguasai cara memasaknya pada usia 34. Lebih
dari separuhnya mengatakan bahwa menyiapkan makan malam pada waktunya justru
merupakan bagian paling sulit.
Senin, 11 Juni 2012
Sabtu, 18 Februari 2012
BKKBN Gandeng Yayasan Damandiri Garap Daerah Padat Penduduk
13 Februari 2012,
BKKBN Gandeng Yayasan Damandiri Garap Daerah Padat Penduduk
BKKBN - Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasonal (BKKBN) memperkuat jaringan kemitraannya
dengan berbagai lembaga untuk menyukseskan program kependudukan dan
keluarga berencana (KKB). Hal itu ditandai dengan penandatangan MoU
antara BKKBN dengan Yayasan Damandiri, Aliansi Pita Putih Indonesia
(APPI), dan Yayasan Melati, dalam acara Penutupan Rakernas BKKBN di
Jakarta, Kamis (9/2).
“Sekarang jangan ragu-ragu lagi,
kepada seluruh perwakilan BKKBN di provinsi, dukung penuh kegiatan Prof
Haryono di lapangan. Saya tahu pasti, kegiatan Yayasan Damandiri adalah
untuk pembangunan bangsa untuk mengentaskan kemiskinan, dan kegiatan
yang terkait MDGs,” kata Sugiri.
Sementara itu, Ketua Yayasan Damandiri
Prof Dr Haryono Suyono mengatakan, pihaknya bersama-sama jajaran BKKBN
di daerah menggarap wilayah yang padat penduduknya melalui program
Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). “Sekarang ini lebih mantap lagi
karena sudah ada instruksi langsung dari Pak Sugiri (Kepala BKKBN).
Sehingga di daerah padat penduduk akan kita tingkatkan lagi
dukungannya,” kata Haryono Suyono.
Bahkan, Yayasan Damandiri akan
memperkuat komponen Posyandu, PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), kegiatan
ekonomi keluarga, dan juga bidang kesehatan yang berhubungan dengan
lingkungan “Dalam waktu dekat kami akan menyiapkan fasiltias Posyandu,
misalnya timbangan untuk ibu hamil, untuk BKB bisa ditingkatkan menjadi
PAUD, proses kegiatan untuk remaja juga perlu ditingkatkan agar remaja
siap untuk ber-KB dan menjadi penduduk berkualitas,” ungkapnya.
Ketika menjawab pertanyaan soal
sasaran Posdaya, di daerah padat penduduk, Haryono menjelaskan, di
daerah padat penduduk harus segera digarap dan bersama-sama secara
komprehensif, agar penduduknya tidak bertambah banyak dan keluarga muda
terutama yang tidak mampu, bisa mempunyai kegiatan ekonomi keluarga,
balita-balita bisa tumbuh sehat karena orangtuanya lebih mampu
ekonominya.
Yayasan Damandiri saat ini sudah bekerjasama dengan 86 perguruan
tinggi, 45 bank, dan kini ditambah lagi dengan petugas keluarga
berencana yang sudah siap bergabung, dan sudah ada 10ribu-an Posdaya.
"Posdaya-posdaya ini akanlebih banyak lagi, semua kegiatan Posdaya
indikatornya MDGs," kata Haryono.(kkb2)
Jumat, 10 Februari 2012
Akibat Obesitas
Obesitas atau kelebihan berat badan dapat menyebabkan berbagai
efek negatif untuk kesehatan. Anak-anak yang masih lugu tentu tidak memahami
bahaya ini. Maka, merupakan tanggung jawab orang-tua menjaga agar anak mereka
tetap sehat. Orang-tua harus mengetahui apa penyebab obesitas dan bagaimana
cara mencegah atau mengatasi masalah obesitas anak
Penyakit yang dapat ditimbulkan akibat obesitas adalah diabetes, darah tinggi, atau penyakit jantung. Penyakit-penyakit yang dulu dianggap sebagai penyakit usia lanjut dan dewasa, kini dapat dialami pada anak akibat timbunan lemak, kolesterol dan gula yang terdapat dalam tubuh. Gangguan pernapasan atau asma berisiko lebih besar dialami anak yang mengalami obesitas.
Selain itu, anak-anak dengan kelebihan berat badan atau kegemukan juga dapat mengalami kesulitan bergerak dan terganggu pertumbuhannya karena timbunan lemak yang berlebihan pada organ-organ tubuh yang seharusnya berkembang. Belum lagi efek psikologis yang dialami anak, misalnya ejekan dari teman-teman sekelas pada anak-anak yang telah bersekolah.
Obesitas dan kelebihan berat badan memiliki dalam dekade terakhir menjadi masalah global - menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali pada tahun 2005 sekitar 1,6 miliar orang dewasa di atas usia 15 + kelebihan berat badan, setidaknya 400 juta orang dewasa menderita obesitas dan setidaknya 20 juta anak di bawah usia 5 tahun kelebihan berat badan.
Para ahli percaya jika kecenderungan ini terus berlangsung pada tahun 2015 sekitar 2,3 miliar orang dewasa akan kelebihan berat badan dan lebih dari 700 juta akan obesitas. Skala masalah obesitas memiliki sejumlah konsekuensi serius bagi individu dan sistem kesehatan pemerintah
Penyakit yang dapat ditimbulkan akibat obesitas adalah diabetes, darah tinggi, atau penyakit jantung. Penyakit-penyakit yang dulu dianggap sebagai penyakit usia lanjut dan dewasa, kini dapat dialami pada anak akibat timbunan lemak, kolesterol dan gula yang terdapat dalam tubuh. Gangguan pernapasan atau asma berisiko lebih besar dialami anak yang mengalami obesitas.
Selain itu, anak-anak dengan kelebihan berat badan atau kegemukan juga dapat mengalami kesulitan bergerak dan terganggu pertumbuhannya karena timbunan lemak yang berlebihan pada organ-organ tubuh yang seharusnya berkembang. Belum lagi efek psikologis yang dialami anak, misalnya ejekan dari teman-teman sekelas pada anak-anak yang telah bersekolah.
Penyebab Obesitas
Beberapa penyebab obesitas pada anak adalah:· Faktor genetik
Merupakan faktor
keturunan dari orang-tua yang sulit dihindari. Bila ayah atau ibu memiliki
kelebihan berat badan, hal ini dapat diturunkan pada anak.
· Makanan cepat saji dan makanan ringan dalam kemasan
Maraknya restoran
cepat saji merupakan salah satu faktor penyebab. Anak-anak sebagian besar
menyukai makanan cepat saji atau fast food bahkan banyak anak yang akan makan dengan
lahap dan menambah porsi bila makan makanan cepat saji. Padahal makanan seperti
ini umumnya mengandung lemak dan gula yang tinggi yang menyebabkan obesitas.
Orang-tua yang sibuk sering menggunakan makanan cepat saji yang praktis
dihidangkan untuk diberikan pada anak mereka, walaupun kandungan gizinya buruk
untuk anak. Makanan cepat saji meski rasanya nikmat namun tidak memiliki
kandungan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Itu sebabnya makanan
cepat saji sering disebut dengan istilah junk food atau makanan
sampah. Selain itu, kesukaan anak-anak pada makanan ringan dalam kemasan atau
makanan manis menjadi hal yang patut diperhatikan.
· Minuman ringan
Sama seperti
makanan cepat saji, minuman ringan (soft drink) terbukti memiliki
kandungan gula yang tinggi sehingga berat badan akan cepat bertambah bila
mengkonsumsi minuman ini. Rasa yang nikmat dan menyegarkan menjadikan anak-anak
sangat menggemari minuman ini.
· Kurangnya aktivitas fisik
Masa anak-anak
identik dengan masa bermain. Dulu, permainan anak umumnya adalah permainan
fisik yang mengharuskan anak berlari, melompat atau gerakan lainnya. Tetapi,
hal itu telah tergantikan dengan game elektronik, komputer, Internet, atau televisi yang cukup dilakukan
dengan hanya duduk di depannya tanpa harus bergerak. Hal inilah yang
menyebabkan anak kurang melakukan gerak badan sehingga menyebabkan kelebihan
berat badan.
Solusi Obesitas
Untuk Anda yang memiliki anak dengan kelebihan berat badan atau obesitas, hendaknya tidak memaksakan diet ketat untuk anak karena hal ini dapat mengganggu pertumbuhan dan kesehatannya. Sebaliknya untuk mengatasi obesitas anak atau mencegah anak Anda agar tidak mengalami obesitas, langkah-langkah yang dapat Anda lakukan antara lain sebagai berikut.· Perhatikan makanan yang akan diberikan untuk anak
Kurangi
mengkonsumsi makanan cepat saji atau fast food, makanan ringan dalam
kemasan, minuman ringan, cemilan manis atau makanan dengan kandungan lemak
tinggi. Sebaliknya, sajikan daging dan sayuran segar. Perbanyak konsumsi buah dan susu yang baik untuk pertumbuhan anak. Berikan
porsi yang sesuai dan jangan terlalu berlebihan.
· Berikan sarapan dan bekal untuk anak
Sarapan merupakan
awal baik untuk anak saat memulai harinya. Ini diperlukan agar anak dapat kuat saat
beraktivitas di sekolah dan mencegah makan berlebihan setelahnya. Dengan membawa
makanan dari rumah, orang-tua dapat mengontrol gizi anak dan menghindari agar
anak tidak perlu jajan di luar.
· Perbaiki teknik mengolah makanan
Jangan terlalu
banyak menggoreng makanan agar tidak terlalu banyak lemak yang dikonsumsi. Anda
dapat mencoba untuk mengukus, merebus atau memanggang makanan agar makanan
lebih sehat.
· Tetapkan aturan makan
Biasakan agar anak
Anda makan di meja makan bukan di depan televisi atau komputer. Banyak orang
akan tidak menyadari berapa banyak makanan yang sudah disantapnya bila dia
makan sambil menikmati tayangan televisi atau di depan komputer.
· Batasi kegiatan menonton televisi, video game atau penggunaan komputer
Melakukan kegiatan
tersebut akan membuat anak Anda malas bergerak, maka diperlukan aturan tegas
tentang berapa lama kegiatan ini boleh dilakukan. Selanjutnya, Anda dapat
membantu anak Anda agar menyenangi hiburan lain seperti bersepeda, bermain bola
atau sekedar lompat tali.
· Lakukan kegiatan yang memerlukan aktivitas fisik
Anda dan anak-anak
dapat merencanakan untuk melakukan kegiatan olahraga bersama seperti jogging,
lari pagi, berenang, badminton atau olahraga lainnya. Atau rencanakan liburan bersama di pantai, kebun binatang atau
taman sehingga Anda dan anak dapat lebih banyak berjalan kaki.
Anak yang gemuk memang lucu dan
menggemaskan. Namun jagalah putra dan putri kesayangan kita agar mereka
bertumbuh dengan sehat dan juga memiliki pola hidup dan pola makan yang sehat.
Orang-tua bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak
mereka. Ingatlah bahwa obesitas atau kegemukan
bukanlah hal yang bagus bagi seorang anak.Obesitas dan kelebihan berat badan memiliki dalam dekade terakhir menjadi masalah global - menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali pada tahun 2005 sekitar 1,6 miliar orang dewasa di atas usia 15 + kelebihan berat badan, setidaknya 400 juta orang dewasa menderita obesitas dan setidaknya 20 juta anak di bawah usia 5 tahun kelebihan berat badan.
Para ahli percaya jika kecenderungan ini terus berlangsung pada tahun 2015 sekitar 2,3 miliar orang dewasa akan kelebihan berat badan dan lebih dari 700 juta akan obesitas. Skala masalah obesitas memiliki sejumlah konsekuensi serius bagi individu dan sistem kesehatan pemerintah
Konsekuensi dan Risiko Kesehatan
Obesitas adalah perhatian karena implikasinya bagi kesehatan individu karena
meningkatkan risiko banyak penyakit dan kondisi kesehatan termasuk: -
Penyakit kardiovaskular - terutama penyakit jantung dan stroke - sudah nomor satu di dunia penyebab kematian, menewaskan 17 juta orang setiap tahun dan diabetes telah dengan cepat menjadi epidemi global - menurut WHO proyeksi kematian diabetes akan meningkat lebih dari 50% di seluruh dunia dalam 10 tahun berikutnya.
Kondisi kesehatan kurang umum yang terkait dengan peningkatan berat badan termasuk asma, steatosis hepatik dan apnea tidur.
Kegemukan dan obesitas merupakan faktor risiko utama untuk sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes, penyakit jantung dan kanker dan sementara itu pernah menjadi masalah hanya di negara berpenghasilan tinggi, kelebihan berat badan dan obesitas meningkat secara dramatis kini di negara berpenghasilan rendah dan menengah. negara-negara seperti sekarang menghadapi "beban ganda" dari penyakit, untuk sementara mereka terus berhubungan dengan masalah penyakit menular dan kurang gizi, mereka juga mengalami kenaikan pesat dalam faktor risiko penyakit kronis seperti obesitas dan kelebihan berat badan, terutama di perkotaan.
Di bawah-gizi dan obesitas sering ada sisi-by-side dalam negara yang sama, komunitas yang sama dan bahkan di dalam rumah tangga yang sama dan ini beban ganda disebabkan oleh nutrisi yang tidak memadai pra-natal, bayi dan anak yang diikuti oleh paparan tinggi lemak , padat energi, mikronutrien miskin makanan dan kurangnya aktivitas fisik.
WHO mendefinisikan orang dewasa yang memiliki BMI antara 25 dan 29,9 sebagai
kelebihan berat badan - orang dewasa yang memiliki BMI 30 atau lebih tinggi
dianggap obesitas - BMI di bawah 18,5 dianggap berat badan, dan antara
18,5-24,9 berat badan yang sehat.
BMI menyediakan patokan untuk penilaian individu, namun para ahli menduga
bahwa risiko penyakit kronis pada populasi meningkat secara progresif dari BMI
21 ke atas.
- Penyakit jantung koroner
- Diabetes tipe 2
- Kanker (endometrium, payudara, dan usus besar)
- Hipertensi (tekanan darah tinggi)
- Dislipidemia (misalnya, total kolesterol tinggi atau kadar trigliserida yang tinggi)
- Pukulan
- Hati dan penyakit Kandung empedu
- Masalah tidur apnea dan pernapasan
- Osteoarthritis (degenerasi tulang rawan dan tulang yang mendasarinya dalam sendi)
- dan masalah Ginekologi (menstruasi abnormal, infertilitas).
Penyakit kardiovaskular - terutama penyakit jantung dan stroke - sudah nomor satu di dunia penyebab kematian, menewaskan 17 juta orang setiap tahun dan diabetes telah dengan cepat menjadi epidemi global - menurut WHO proyeksi kematian diabetes akan meningkat lebih dari 50% di seluruh dunia dalam 10 tahun berikutnya.
Kondisi kesehatan kurang umum yang terkait dengan peningkatan berat badan termasuk asma, steatosis hepatik dan apnea tidur.
Konsekuensi Ekonomi
Kegemukan dan obesitas dan masalah terkait kesehatan mereka memiliki dampak ekonomi yang signifikan terhadap sistem kesehatan dan biaya medis yang terkait dengan kelebihan berat badan dan obesitas memiliki baik biaya langsung dan tidak langsung - biaya medis langsung mungkin termasuk layanan pencegahan, diagnostik, dan pengobatan berhubungan dengan obesitas, sementara tidak langsung biaya berhubungan dengan hilangnya pendapatan dari produktivitas menurun, aktivitas terbatas, ketidakhadiran, dan hari tempat tidur dan pendapatan hilang oleh kematian dini.Mendefinisikan Obesitas
Kegemukan dan obesitas didefinisikan oleh WHO sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat menimbulkan risiko kesehatan ke individu.Kegemukan dan obesitas merupakan faktor risiko utama untuk sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes, penyakit jantung dan kanker dan sementara itu pernah menjadi masalah hanya di negara berpenghasilan tinggi, kelebihan berat badan dan obesitas meningkat secara dramatis kini di negara berpenghasilan rendah dan menengah. negara-negara seperti sekarang menghadapi "beban ganda" dari penyakit, untuk sementara mereka terus berhubungan dengan masalah penyakit menular dan kurang gizi, mereka juga mengalami kenaikan pesat dalam faktor risiko penyakit kronis seperti obesitas dan kelebihan berat badan, terutama di perkotaan.
Di bawah-gizi dan obesitas sering ada sisi-by-side dalam negara yang sama, komunitas yang sama dan bahkan di dalam rumah tangga yang sama dan ini beban ganda disebabkan oleh nutrisi yang tidak memadai pra-natal, bayi dan anak yang diikuti oleh paparan tinggi lemak , padat energi, mikronutrien miskin makanan dan kurangnya aktivitas fisik.
Mengukur Obesitas
Ukuran populasi mentah obesitas adalah indeks massa tubuh (BMI) yang merupakan indeks sederhana dari berat badan-tinggi untuk-yang umum digunakan dalam mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas pada populasi orang dewasa dan individu - berat badan seseorang dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi dalam meter (kg/m2). BMI menyediakan pengukuran tingkat populasi yang paling berguna dari kelebihan berat badan dan obesitas sebagai itu adalah sama untuk kedua jenis kelamin dan untuk semua usia dewasa, tetapi itu hanyalah panduan kasar karena mungkin tidak sesuai dengan derajat yang sama kegemukan pada individu yang berbeda.Melihat Tumbuh Kembang si Kecil
Tahap Perkembangan Anak
Apa saja
yang sudah bisa dilakukan si kecil? Mengapa anak tetangga sebelah yang
seusia dengan si kecil sudah bisa mengucapkan "mama" tetapi mengapa
si kecil belum? Sebenarnya apa saja
yang seharusnya sudah dapat dilakukan si kecil pada usianya sekarang? Dalam
tumbuh kembangnya, si kecil akan mengalami berbagai tahapan yang harus
diperhatikan. Sangatlah menyenangkan untuk mengamati dan membantu anak sejak
bayi menjadi balita agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.
Tahap Perkembangan Anak
Melihat hal-hal pertama yang bisa dilakukan si kecil, bisa menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan sebagai orang tua. Melihatnya tertawa, mendengarnya mengucapkan kata pertama, melihatnya berdiri atau berjalan dapat menjadi moment yang tak terlupakan. Walau kadang terlambat, orang tua dapat memberi dukungan untuk anak, maka sangatlah penting untuk mengetahui apa saja tahapan yang akan dilalui si kecil seiring bertambah usianya.Tumbuh kembang seorang anak, dibagi menjadi 3 hal, yaitu:
· Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa
Merupakan
kemampuan untuk mendapatkan informasi dari sekitar juga menggunakan bahasa.
· Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik
Merupakan
kemampuan anak untuk melakukan gerakan atau aktivitas fisik menggunakan anggota
tubuhnya.
· Kemampuan Sosial / Emosional
Merupakan
kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain untuk menunjukkan perasaannya.
Usia 0-2 bulan |
|||
|
|
Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa
|
Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik
|
Kemampuan Sosial / Emosional
|
Usia 3-6 bulan |
|||
|
|
Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa
|
Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik
|
Kemampuan Sosial / Emosional
|
Usia 7-12 bulan |
|||
|
|
Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa
|
Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik
|
Kemampuan Sosial / Emosional
Mengajak orang lain ke suatu tempat dengan cara menunjuk suatu tempat
atau mengikuti tempat yang ditunjuk orang lain
|
Usia 12-18 bulan
(1 tahun sampai 1,5 tahun)
|
|||
|
|
Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa
|
Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik
|
Kemampuan Sosial / Emosional
|
Usia 19-24 bulan
(1,5 tahun sampai 2
tahun)
|
|||
|
|
Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa
|
Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik
|
Kemampuan Sosial / Emosional
|
Usia 2-3 tahun |
|||
|
|
Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa
|
Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik
|
Kemampuan Sosial / Emosional
|
Usia 3-6 tahun |
|||
|
|
Kemampuan Mental / Berpikir / Berbahasa
|
Kemampuan Fisik / Motorik / Sensorik
|
Kemampuan Sosial / Emosional
|
Mengetahui tahap perkembangan anak Anda dapat menjadi petunjuk bagi orang tua. Jika kemampuan anak belum sesuai dengan usianya, orang tua dapat membantu misalnya dengan menggunakan mainan untuk menstimulasi otak atau kemampuan fisiknya. Atau mengajak anak melakukan hal-hal bersama.
Kamis, 02 Februari 2012
PERTUMBUHAN PENDUDUK TARGETKAN TURUN 1,1 %
JAKARTA – Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menargetkan laju
pertumbuhan penduduk (LPP) turun sebesar 1,1% pada 2012. Kepala BKKBN
Sugiri Syarief mengatakan, berdasarkan sensus tahun 2010 diketahui bahwa
pertumbuhan penduduk Indonesia melebihi proyeksi nasional, yakni
sebesar 237 juta jiwa dengan LPP 1,49% per tahun. Hal ini lantaran
keluarga dengan kategori miskin sering kali memiliki anak lebih dari dua
dan tidak diikuti perekonomian keluarga yang memadai atau menunjang.
“Mengawali 2012, yang harus kita cermati
dari tahun ke tahun adalah LPP di Tanah Air. Jumlah penduduk dunia saat
ini sudah mencapai hampir 7 miliar orang, termasuk di Indonesia yang
saat ini jumlah penduduknya sudah mencapai 242 juta jiwa lebih. Kami
yakin pada 2012, angka LPP bisa turun 1,1%,” tegas Sugiri di Jakarta
kemarin.
Sugiri mengatakan, target penurunan angka LPP tersebut dilakukan dengan tetap menjalankan dan menambah dinamika program Keluarga Berencana (KB) pada 2010 dan 2011 dengan komitmen politik bahwa pembangunan nasional yang dijalankan pada 2012 harus memperhatikan penduduk sebagai salah satu materinya.
“Lebih dari Rp600 miliar anggaran BKKBN dari hampir Rp3 triliun total anggaran akan dipakai membeli alat kontrasepsi untuk keluarga miskin di seluruh Indonesia sehingga diharapkan angka unmet need atau pasangan yang membutuhkan KB tetap bisa terlayani dan LPP bisa ditekan setiap tahun,” paparnya. Sugiri juga berharap, upaya pembangunan bisa mengikuti laju pertambahan penduduk.
Anggota Komisi IX DPR Jamaluddin Jafar menyatakan, laju pertambahan penduduk di Indonesia sudah memasuki level yang harus diwaspadai. Dalam setahun, ujarnya, pertumbuhan penduduk Indonesia dari angka kelahiran mencapai 4,5 juta jiwa. Belum lagi pertambahan penduduk karena migrasi dari luar negeri. “Jadi, perlu langkah cepat dan tepat dalam penanganannya. Indonesia harus banyak belajar dari negara lain. Salah satunya China yang berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk dalam waktu yang relatif singkat,” tandasnya. (radi saputro)
Sumber: Harian Seputar Indonesia - Sabtu, 07 Januari 2012
Sugiri mengatakan, target penurunan angka LPP tersebut dilakukan dengan tetap menjalankan dan menambah dinamika program Keluarga Berencana (KB) pada 2010 dan 2011 dengan komitmen politik bahwa pembangunan nasional yang dijalankan pada 2012 harus memperhatikan penduduk sebagai salah satu materinya.
“Lebih dari Rp600 miliar anggaran BKKBN dari hampir Rp3 triliun total anggaran akan dipakai membeli alat kontrasepsi untuk keluarga miskin di seluruh Indonesia sehingga diharapkan angka unmet need atau pasangan yang membutuhkan KB tetap bisa terlayani dan LPP bisa ditekan setiap tahun,” paparnya. Sugiri juga berharap, upaya pembangunan bisa mengikuti laju pertambahan penduduk.
Anggota Komisi IX DPR Jamaluddin Jafar menyatakan, laju pertambahan penduduk di Indonesia sudah memasuki level yang harus diwaspadai. Dalam setahun, ujarnya, pertumbuhan penduduk Indonesia dari angka kelahiran mencapai 4,5 juta jiwa. Belum lagi pertambahan penduduk karena migrasi dari luar negeri. “Jadi, perlu langkah cepat dan tepat dalam penanganannya. Indonesia harus banyak belajar dari negara lain. Salah satunya China yang berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk dalam waktu yang relatif singkat,” tandasnya. (radi saputro)
Sumber: Harian Seputar Indonesia - Sabtu, 07 Januari 2012
Pil KB, tapi meningkatkan vitalitas pria
Banjarmasin (ANTARA
News) - Peneliti dari Universitas Airlangga Surabaya Jawa Timur
menemukan pil KB khusus pria yang berfungsi selain mengatur angka
kelahiran juga untuk meningkatkan gairah dan vitalitas pria dalam
hubungan suami istri.
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN DR Sudibyo Alimoesa dalam pertemuan dengan ulama se-Kalsel di Banjarmasin, Selasa, mengatakan pil KB berbahan baku daun Gandarusa asal Papua tersebut kini sedang dalam proses penelitian fase III.
"Bila telah ditemukan kandungan yang tepat maka pil tersebut akan segera diproduksi secara massal," katanya.
Pil KB dari daun Gandarusa tersebut, kata dia, memiliki manfaat ganda, selain untuk mengatur kelahiran juga untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.
Ditemukannya ekstrak Gandarusa tersebut berawal dari penelitian yang dilakukan pihak Unair terhadap budaya orang Papua yang meminta anak laki-lakinya untuk mengonsumsi daun tersebut saat akan berhubungan suami istri.
Berdasarkan keyakinan warga Papua, daun tersebut diberikan kepada anak lelaki yang telah melakukan hubungan suami istri tetapi belum melakukan prosesi adat karena keterbatasan finansial.
Sesuai adat di Papua, untuk mendapatkan seorang perempuan seorang lelaki harus memberikan persembahan ternak seperti babi dan lainnya.
"Bagi yang belum memiliki uang untuk melakukan persembahan tersebut, untuk mencegah kelahiran maka diberi daun tersebut," katanya.
Setelah diteliti daun tersebut memang mengandung zat-zat yang bisa bermanfaat untuk mengatur kelahiran sekaligus bisa untuk meningkatkan vitalitas dan gairah laki-laki.
Dengan adanya pil tersebut, kata Sudibyo, diharapkan berbagai keluhan perempuan termasuk efek samping KB bagi perempuan bisa diatasi.
"Kita telah bekerjasama dengan PT Indofarma untuk memproduksi pil tersebut secara massal, namun kini harus dicari formula yang tepat," katanya.
Menurut Sudibyo, penemuan pil KB untuk pria tersebut merupakan salah satu jawaban atas protes yang disampaikan para wanita yang selama ini menjadi obyek KB.
Selain pil KB pria saata ini BKKBN juga sedang gencar melakukan sosialisasi KB pria melalui pasektomi yang pesertanya masih sangat sedikit.
"Peserta KB pria masih sangat minim, bahkan hingga 2015 target kita hanya 5 persen
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN DR Sudibyo Alimoesa dalam pertemuan dengan ulama se-Kalsel di Banjarmasin, Selasa, mengatakan pil KB berbahan baku daun Gandarusa asal Papua tersebut kini sedang dalam proses penelitian fase III.
"Bila telah ditemukan kandungan yang tepat maka pil tersebut akan segera diproduksi secara massal," katanya.
Pil KB dari daun Gandarusa tersebut, kata dia, memiliki manfaat ganda, selain untuk mengatur kelahiran juga untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.
Ditemukannya ekstrak Gandarusa tersebut berawal dari penelitian yang dilakukan pihak Unair terhadap budaya orang Papua yang meminta anak laki-lakinya untuk mengonsumsi daun tersebut saat akan berhubungan suami istri.
Berdasarkan keyakinan warga Papua, daun tersebut diberikan kepada anak lelaki yang telah melakukan hubungan suami istri tetapi belum melakukan prosesi adat karena keterbatasan finansial.
Sesuai adat di Papua, untuk mendapatkan seorang perempuan seorang lelaki harus memberikan persembahan ternak seperti babi dan lainnya.
"Bagi yang belum memiliki uang untuk melakukan persembahan tersebut, untuk mencegah kelahiran maka diberi daun tersebut," katanya.
Setelah diteliti daun tersebut memang mengandung zat-zat yang bisa bermanfaat untuk mengatur kelahiran sekaligus bisa untuk meningkatkan vitalitas dan gairah laki-laki.
Dengan adanya pil tersebut, kata Sudibyo, diharapkan berbagai keluhan perempuan termasuk efek samping KB bagi perempuan bisa diatasi.
"Kita telah bekerjasama dengan PT Indofarma untuk memproduksi pil tersebut secara massal, namun kini harus dicari formula yang tepat," katanya.
Menurut Sudibyo, penemuan pil KB untuk pria tersebut merupakan salah satu jawaban atas protes yang disampaikan para wanita yang selama ini menjadi obyek KB.
Selain pil KB pria saata ini BKKBN juga sedang gencar melakukan sosialisasi KB pria melalui pasektomi yang pesertanya masih sangat sedikit.
"Peserta KB pria masih sangat minim, bahkan hingga 2015 target kita hanya 5 persen
Langganan:
Postingan (Atom)


